Semua itu butuh proses



Kejadian ini pas lagi latihan musik. Prembik dan chemenk adalah cewek yang tersisa setelah melalui tahap seleksi alam **(haish), alhasil terpaksa sekali lagi terpaksa cuma mereka yang bisa diajak latihan. Malam itu chemenk dan prembik latihan musik percussion di pinggir lapangan kampus sebelah jalan tepat depan sanggar samping kiri masjid belakang pos satpam dengan instruktur mas Bebek dan mas Teyenk. **(jangan lupa untuk bernafas guys, masih ingat cara bernafas kan?). Alat musik dalam teater itu beragam cuy, mulai alat musik dari Negara sebelah yang aneh-aneh bentuknya. Mulai dari yang bentuknya lurus kayak jembatan layang sampai yang bentuknya berkelok-kelok kayak ular tangga dengan jebakan-jebakan, bahkan juga alat musik buatan sendiri **(yang penting keluar bunyinya guys).
Entah memang hari itu adalah hari kesialan chemenk atau mungkin chemenk yang lagi enggak akur sama jimbe[1] secara bodi jimbe lebih seksi dan bohai dari dia atau bagaimana enggak tahu, yang jelas hari itu adalah hari sial banget bagi chemenk **(mandi kembang ala suzanna biar enggak nular sialnya).
Mas Bebek: **(pasang wajah bak bapak guru SD) Percussion adalah musik bla… bla…, asalnya dari bla… bla… bla… dan bla… bla… bla… juga bla… bla… bla…. **(kek bebek yang puasa ngomong selama tujuh hari tujuh malam sampai enggak kerasa seabad kemudian) baiklah kita langsung praktik saja, coba kalian tirukan saya. **(tek, tek, tek, dug, dug, dug)
Prembik + Chemenk: **(tek, tek, tek, dug, dug, dug *para kawanan semut dan penghuni tanah lainnya serasa dapat serangan geranat bertubi-tubi)
Mas Bebek: **(menghela nafas panjang, dan kalau sudah gitu berarti ada yang salah nabuhnya) mas Teyenk tolong diambil alih ya.
Mas Teyenk: **(pasang wajah bak bapak guru SLB) Kalian coba pemanasan tangan saja dulu, ikuti saya **(dengan gemulainya, tangannya memukul jimbe bergantian dengan kecepatan 100Km/jam, *tek tek tek tek tek tek tek tek)
Prembik + Chemenk: **(tek tek tek tek tek tek tek tek *suaranya berantakan yang lebih mirip suara kodok yang lagi ke injak becak)
Mas Bebek: Chemeeeeeeeeenkk, perhatikan dengan baik !!!!!!!
Aduh, serasa dapat satu paket petir + guntur + gempa dahsyat dengan kekuatan mencapai 10 skala richter di mulutnya, gendang telinga chemenk mau pecah seketika. Chemenk tahu kalau dia salah nabuh dan enggak bisa berkata-kata hanya bisa mengheningkan cipta saja.
Mas Teyenk: **(masih coba pasang wajah kek bapak guru SLB) Kita coba satu persatu saja ya, prembik duluan. **(dug tek tek dug tek tek tek tek dug)
Prembik: **(dug tek tek dug tek tek tek tek dug)
Chemenk: **(dug tek tek dug dug gludug gludak, klontang *glek, mbatin) aduh, mampus salah lagi, oh em ji, ampuni dosa hambamu yang berdosa ini.
Mas Bebek: Mesti kok chemenk ini salah terus, nabuh gini saja enggak bisa, sudah diajarin berulang kali tetap enggak bisa. **(teriak-teriak kayak lagi ada maling jemuran)
Alhasil chemenk basah kuyup kena cipratan hujan lokal dari mulutnya **(makanya sedia payung sebelum hujan). Malam semakin larut, enggak kerasa sudah berjam-jam latihan. Dengan kesabaran yang mencapai 3.1Mbps, mas Bebek dan mas Teyenk masih melanjutkan latihan. Tangan Prembik menabuh jimbe dengan lihai seperti sudah latihan tiga minggu. Memang dasar chemenk yang lagi apes mungkin, lagi-lagi dia melakukan kesalahan dalam nabuh jimbe.
Mas Bebek: Ya Allah Chemenk, dari tadi salah terus. **(asah parang)
Chemenk: Maaf **(pasang wajah termelas, bahkan wajah pengemis yang enggak makan tujuh hari beneran saja kalah, pasrah saja deh)
Latihan semakin terasa amat sangat lama sekali, karena mood chemenk yang sudah hancur berkeping-keping bahkan sogokan apapun enggak bakal mempan. Tapi latihan harus tetap berlanjut.
Mas Bebek: Sekarang chemenk nyoba sendiri. **(nunjukin parang)
Chemenk: Tadi komposisine kayak gimana yak? **(wajah datar tak berdosa)
Mas Bebek: CHEMMMMEEEEEEEEEEEEEEEEENK !!!!!! **(suaranya yang menggelegar dengan nada sopran pakai suara fals kayak habis keselek sound)
Chemenk: **(kibarin bendera putih, *WANTED-dibutuhkan segera dukun dengan keahlian khusus santet)
Kalau setiap hari seperti ini, serasa chemenk pengen menabrakkan diri saja ke kereta api yang lewat depan kampus, tapi niatnya itu enggak pernah kesampaian. Habis setiap mau bunuh diri chemenk langsung teringat emaknya, secara chemenk lebih takut sama emaknya dibanding sama mbak kunti dengan dandanan ala chucky yang siap mencekik lehernya.
Pesan Adegan: “Semuanya butuh proses, karena tidak ada yang tercipta untuk terlatih yang ada berlatih.” Tapi lain lagi kalau yang berlatih kayak chemenk, butuh waktu seabad untuk menaklukkan otaknya yang dodol itu.
Chemenkรจsoly bely stlowbely yee, tergantung dari instrukturnya tales, coba instrukturnya kayak pak Dul pasti langsung bisa **(pak Dul=salah satu dosen termuda dengan dandanan yang nyentrik, sejak saat itu chemenk manambatkan hatinya hanya untuk dia seorang. Pertanyaanya memang pak Dul bisa main jimbe nuw?).



[1] Alat music seperti gendang yang berasal dari 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We Can't Stop by Miley Cyrus

Gak Kenal Maka Tak ajak Kenalan

Hujan Pasti Reda by Maz Koko "Q" Fuals